Tentang Prasangka

Seorang wanita muda duduk di sebuah kursi kereta eksekutif. Perjalanan malam hari itu, terlebih seharian penuh ia telah bergulat dengan segudang aktivitas, tak pelak membuat rasa kantuk begitu kuat menerpanya. Di sela-sela matanya yang hampir terpejam, ia perhatikan sosok lelaki di sampingnya, dengan begitu berani dan tanpa rasa malu, mengambil sepotong kue dari kotak yang terletak di antara mereka berdua.
“Laki-laki ini tidak tahu malu. Tidak minta izin lagi…”, gumam wanita itu.
Terus diperhatikannya “pencuri” di sampingnya. Ketika si wanita mengambil sepotong kue, ia ikut mengambil sepotong. Dan sekali lagi, tanpa ada ekspresi berdosa.
Hingga akhirnya, kue itu tinggal satu. Lelaki itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu sembari tersenyum memberikan separuh kepada sang wanita sementara separuh lagi ia makan. Dengan sigap dan raut muka agak geram, wanita itu meraih setengah potong kue tersisa. Ia tinggalkan “lelaki tak tahu terima kasih” itu, tanpa menoleh atau mengucapkan sepatah kata pun. Rupanya, itu adalah ekspresi rasa marahnya kepada seorang “pencuri” kue.
Setengah jam kemudian ia sudah berada di dalam pesawat. Ia mencoba meraih buku di dalam tas. Ketika tangannya merogoh ke dalam tas, ia tersentak. Sekotak kue.
Mukanya berubah pucat pasi. Rupanya, kue yang tadi dimakan “bersama” di dalam kereta adalah milik lelaki yang telah ia sebut sebagai pencuri. Padahal, dirinya sendirilah yang sebenarnya pencuri, ia yang tak tahu malu, dan dia sendiri yang tak kenal terima kasih. Namun, sudah tidak ada waktu lagi. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf.
………………………………………………………………..
Kerapkali, kita ibarat seorang ahli ramal yang begitu arogan. Kita sering melihat dunia dengan memakai kacamata berwarna, bukan dengan mata asli kita. Prasangka yang ada di dalam diri adalah ibarat kacamata berwarna itu. Dengan kacamata hitam kita akan melihat dunia berwarna hitam. Begitu pula, semua akan tampak hijau ketika kita mengenakan kacamata hijau. Prasangka adalah penghalang mata hati kita untuk melihat hakikat setiap keadaan. Lebih naif lagi, prasangka lebih dulu memberitahu warna sebuah benda sementara mata kita belum pernah melihatnya.
Katakanlah: “Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?” Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta.(QS. Al-An’aam : 148)

Ahad, 14 Desember 2008
03:14 am
(di malam yang dingin)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.